[Serial Pola #2]

Orang ini, Joe DiMaggio, adalah salah satu pemukul harapan baseball terhebat sepanjang masa, Di masanya, musim 1941, dia pernah berhasil memukul setiap bola yang dilempar dalam lima puluh enam pertandingan berturut-turut. Rekor yang baru pecah 75 tahun kemudian.

Apa? biasa aja? coba sendiri deh main baseball. Gue dulu maen kasti sih waktu SD. Dan Asli, susah mukul bola yg dilempar ke lo! (hahaha.. kasti :D)

[Joe DiMaggio]

 

Suatu saat, ada wartawan yang wawancara Joe di rumahnya di bilangan Jatinegara dan bertanya bagaimana rasanya jadi orang yang punya bakat natural jadi hitter kayak dia. Dan Joe gak menjawab, cuma ngajak wartawan itu ke rubanah (basement coy). Di remang-remang basement itu, Joe mengambil  dan mulai mengayun pemukul baseballnya berkali kali. Setiap sebelum mengayun, dia teriak beberapa skenario bola yang dilempar ke arah dia (kayak misalnya.. fastball, rendah, spin ke arah kanan) lalu menyesuaikan bagaimana cara dia memukulnya. Setelah cukup lama, dia selesai. Lalu Joe ngambil kapur, dan mencoret salah satu bagian dindingnya dengan tally mark (itu loh.. yang kayak kalo ngitung hasil pemilu. satu garis, dua garis sampe empat garis, trus garis miring). Abis itu, dia nyalain lampu ruang basementnya dan terlihatlah ribuan tally mark tergores di dinding. “Jangan pernah lagi bilang gue punya bakat natural” ujar Joe ke wartawan itu.

 

“Yaelah, gue juga tau Pit. Kalo mau sukses itu emang harus kerja keras”

Oya? Gue setuju sih, kerja keras dianggap jadi resep kesuksesan seseorang.  Gue contoh hidupnya,  latihan buku test UMPTN dari kelas 2. Hampir tiap hari kayaknya deh waktu itu. Walaupun bosannya setengah mati. Hasilnya ? kayaknya ngalahin ratusan ribu orang dan masuk top 100 orang yang bisa kuliah di Elektro FTUI.

Tapi ternyata menurut James Clear, kerja keras ini ternyata ada keterbatasannya. Kerja keras akan menjadi bahan sukses hanya pada kondisi tertentu. Dan lo harus mengerti kapan kerja keras bisa menjadi pembeda dan kapan ia tidak bisa.

Kerja keras ternyata bisa berpengaruh kepada kesuksesan pada kondisi tertentu aja

 

Mata lo woy!

Pada tahun 90an, seseorang bernama Louis Rosenbaum meneliti mengenai penglihatan para pemain di liga utama baseball (MLB) di Amerika Serikat. Dan dia dengan cepat menemukan bahwa penglihatan para pemain yang berhasil menembus MLB ini ternyata beda sama manusia biasa.

Penellitian dia menunjukkan bahwa rata-rata nilai penglihatan pemain di MLB adalah 20/11. Artinya, mereka bisa membaca huruf dari jarak 20 kaki di saat manusia biasa cuma bisa membaca huruf itu dari jarak 11 kaki. Ted Williams yang dianggap salah satu pemain terhebat MLB sepanjang sejarah punya nilai 20/10. Dan secara anatomi, limit manusia ada di nilai 20/8.

Jadi intinya, kalo lo mau main di MLB, kerja keras latihan kayak si Joe itu sangat membantu. Tapi lo juga harus punya mata kayak Joe. Di bidang-bidang yang kompetitif tinggi, kerja keras sering menjadi penting. Tapi belum tentu cukup.

 

Mitos Kerja Keras

Bahwa lo bisa mencapai segala sesuatu dengan kerja keras, pantang menyerah dan gemar menabung. Emang bener manusia bisa adaptasi belajar skill baru, berkembang di bidang tertentu, tapi tetap ada batasnya. Gen kita membatasi apa yang mungkin dan apa yang gak mungkin (ya.. I know, I know , ada ungkapan nothing is impossible)

Para peneliti gen menemukan bahwa semua yang ada di diri kita dipengaruhi oleh gen. bukan cuma atribut fisik kayak tinggi badan, tapi juga kemampuan mental (contoh: kekuatan menghadapi masalah). Gen kita mempengaruhi semuanya.

Ada contoh lain yang kebeneran juga petennis yang waktu kecil suka gue tonton. Steffi Graf. Waktu dia diukur di antara petenis muda elit lainnya, dia dapet score tertinggi di atribut fisik kayak kapasitas paru-paru dan skill motorik. Tapi dia juga dapet nilai tertinggi di aspek mental keinginan untuk berkompetisi.

Salah seorang geneticist Robert Plomin bahkan mengatakan “kita sampai di suatu titik di mana kita berhenti untuk melakukan test untuk mengukur kalau gen berpengaruh terhadap karakteristik seseorang itu (fisik & mental) atau tidak. Karena kita gak bisa nemuin satu karakteristik aja yang gak dipengaruhi oleh gen

 

Eh, jadi gimana dong?  Maksudnya lo bilang, gue ga usah repot-repot ngejer impian gue gitu ? (bersambung)