“Kita beroperasi dengan 70% cabang ditutup” ujar salah seorang SVP di salah satu Bank terbesar di Indonesia, awal Juni kemarin.

Hasilnya? semua kegiatan tetap berjalan. Karenanya baru-baru ini para executive sedang berdiskusi intens mengenai berapa jumlah optimal dari kantor cabang.

Ya, Covid-19 digadang-gadang oleh banyak pengamat sudah memaksa transformasi digital di hampir semua vertical industry lebih cepat 5 tahun. Tidak terkecuali Bank.

Bukan hanya mempersiapkan sistem video conferencing. Hal-hal ini mungkin bisa sedikit memberikan gambaran tambahan:

Bank tiba-tiba harus mempersiapkan sistem follow up pengajuan restrukturisasi pembayaran dari para kreditur tanpa sang kreditur harus datang ke kantor Bank. Bagaimana caranya? serahkan ke IT

Lonjakan traffic pemakaian mobile banking yang tidak pernah terjadi secepat dan semasif ini. BRI mengalami lonjakan pemakaian mobile banking sampai 60%, Mandiri mencapai puncak tertinggi velocity traffic sepanjang sejarahnya sampai 23 ribu traffic per detik. Bagaiamana caranya? serahkan ke IT

Para user bagian bisnis yang harus mengubah cara mereka berinteraksi dengan client. New way, new channel. Bagaimana caranya? ya. Benar. Serahkan ke IT.

And how’s on earth, IT can cope with all those things?

Development, testing aplikasi baru yang baru saja dibutuhkan saat pandemi ini. Mengintegrasikan ke sistem existing, membantu meminimalisir proses manual, dan banyak hal-lain.

Cloud computing dengan segala fiturnya. Itu sih yang ada di pikiran gue.

Dan pemain global -with all respect to local service provider- punya competitive advantage di kondisi ini.

Mereka sudah mature di negara asalnya di mana digital dan mobile first sudah lebih dulu bertahun-tahun lamanya diibandingkan Indonesia. Mereka tidak akan gagap menjawab pertanyaan dari setiap masalah yang dihadapi oleh banyak perusahaan di Indonesia saat ini. It’s their playground.

Autoscaling, push your code, serverless, AI integration, hybrid solution, etc. You named it, semua ada dan sudah ada sebelum pandemi terjadi. Dan yang pasti bisa menjawab kebutuhan perusahaan di masa pandemi ini.

Dan, local lnstance. They have their infrastructure di bumi pertiwi. Semakin memperkecil barrier ketakutan untuk mencoba layanan mereka untuk mereka yang ketakutan karena regulasi penempatan data.

Gue sampai saat ini belum melihat local cloud service provider yang bisa mengambil moment ini.

Layanan private cloud mereka gak bisa bergerak banyak dari sisi kecepatan delivery dan Capex di sisi pelanggan.

Di sisi public cloud, mereka susah bergerak untuk menambahkan fitur dan masih berkutat di penyediaan layanan dasar. Mau menambah fitur, sangat tergantung dengan technological vendor dan ketersediaan Capex.

Ada Capex pun mereka masih harus bertarung dengan technology vendor mereka sendiri yang juga ikut menawarkan solusi private untuk end user.

Belum lagi mempersiapkan backend system, enablement team delivery, customer service, dll

These giants. They’re too big in term of scalability and product enhancement engine.
They’re taking it all.. Enterprise yang mau mempercepat tranformasi digitalnya, apalagi digital-native business macam Decacorn, Unicorn dan semua level start up.

Gue tadinya memperkirakan local CSP masih bisa bermain selama beberapa tahun ke depan karena mereka masih bisa menjual private cloud.

But again, seperti di awal tulisan ini.. waktu seperti bergeser 5 tahun lebih cepat dari yang seharusnya. And suddenly mereka dipaksa berhadapan langsung dengan para raksasa ini.

Kita sering mendengar banyak bisnis yang melakukan pivot saat pandemi ini. Tapi mungkin sebenarnya ini juga saat bagi para local CSP untuk mulai memikirkan pivot.